Friday, January 17, 2014

Indonesia's Sketchers Sketch Gathering - Pasar Jatinegara/Mester

(Klik gambar untuk memperbesar tampilan)

Indonesia's Sketchers
S K E T C H   G A T H E R I N G

PASAR JATINEGARA (MESTER)
Jakarta Timur

Minggu
Januari 26, 2014

10.00 pagi - selesai (perkiraan pukul 15.00 WIB)

Meet Point : Toko Buku Prapatan

Event ini gratis !

Bawa peralatan menggambar yang sesuai keahlianmu

 ========================================================================

Pasar Jatinegara merupakan sebuah pasar yang berada di kawasan Jatinegara, Jakarta Timur. Pasar ini berdekatan dengan Pusat Grosir Jatinegara, SMP Negeri 14 Jakarta dan Stasiun Jatinegara. Pasar ini dahulu bernama Mester Passer (Pasar Mester) dan pasar ini di lalui oleh Trem Batavia. Pasar ini juga disebut Pasar Kamis karena dahulu pasar ini dibuka setiap hari kamis.

Pada masa penjajahan Belanda, Jatinegara merupakan pusat dari kabupaten yang dikenal sebagai Meester Cornelis. Kabupaten Jatinegara saat itu meliputi Bekasi, Cikarang, Matraman dan kebayoran. Nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara pada masa pendudukan Jepang sekitar tahun 1942. Meskipun demikian, nama Jatinegara yang berarti ‘negara sejati’ itu sudah dipopulerkan oleh Pangeran Ahmad Jayakarta saat beliau mendirikan perkampungan Jatinegara Kaum di wilayah Pulo Gadung, Jakarta Timur. Versi lain mengatakan bahwa nama Jatinegara diadaptasi dari banyaknya pohon jati yang masih ditemukan di kawasan tersebut pada masa pendudukan Jepang, sehingga nama Meester Cornelis diganti menjadi Jatinegara.

Pasar Lama Jatinegara atau lebih dikenal dengan Pasar Mester, merupakan pusat ekonomi bagi warga Jatinegara. Pasar Lama Jatinegara mempunyai banyak deret bangunan dimana dulunya dikenal dengan bangunan Belanda. Di sekitar pasar tersebut juga terdapat pedagang-pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya mulai dari pukul 7 pagi hingga pukul 6 sore.


INFO TRANSPORTASI PUBLIK

Transjakarta (arah Kp. Melayu)
Mikrolet M16 & M01 (arah Kp. Melayu)
Kopaja 502 (arah Kp. Melayu)
Metro Mini 54 (arah bypass)
Kereta (Stasiun Jatinegara)

CONTACT PERSON

ANDRY
0813 1677 2996

YANUAR
0896 3601 6360






Monday, January 6, 2014

Petak Sembilan, Sebuah Pecinaan Jakarta

Pecinan Jakarta


Petak Sembilan, Pancoran Glodok salah satu situs pecinan Jakarta di daerah Jakarta Barat. Pecinaan selalu terletak di dekat sungai karena memiliki peran besar terhadap perekonomian sebuah kota, lalulalang perdagangan salah satunya melalui pelabuhan Sunda Kelapa. Warga Tiong hoa bermukim disini jauh sejak era kolonial kepemimpinan Belanda menduduki Jakarta. tak jauh dari sini adalah Kota Tua berperan sebagai pusat pemerintahan di era Kolonial diletakan berdekatan karena pemerintah harus memantau perekonomian.

Kawasan Petak Sembilan ini juga terkenal sebagai pusat obat. Tiong hoa sangat terkenal dengan teknik pengobatan tradisionalnya. Disini bisa ditemukan rempah-rempah obat sampai pengobatan menggunakan ular kobra.


Hampir setiap sabtu pagi saya mendatangi kawasan Petak Sembilan, sekadar untuk sarapan dan ngobrol dengan warga lokal di kopi tiam (Kopi Es Tak Kie) di gang Gloria, sebuah Kopi Tiam yang sudah aktif sejak 1927, sebuah kawasan dimana saya merasa nyaman, merasa dimana saya tidak sendiri ketika setiap pagi koh Latief (pemilik, generasi ke tiga dari toko ini) selalu memperkenalkan saya dengan pelanggan yang duduk di meja lain dan memperkenalkan daerah Petak Sembilan (detiap saya datang selalu dengan cerita baru).



Selepas sarapan, saya berkeliling daerah ini. selain menawarkan sarapan yang menarik, banyak ditemukan jajanan khas pecinan seperti kue, dupa, kertas doa, dll.


Kalau diperhatikan hampir disetiap bangunan sakral selalu ditemukan patung, menurut seorang Biksu dalam kebudayaan Cina patung ini merupakan makhluk rekaan yang diberi nama Sai berperan sebagai penjaga. diletakkan di samping pintu gerbang masuk.


Hal yang paling banyak bisa ditemukan di Petak Sembilan saat pagi hari adalah Kuliner. tempat ini sangat menarik untuk kalian hampiri sebagai pecinta kuliner.




Selain kuliner, pasar, disini juga bisa menghampiri kuil/klenteng sebagai tempat wisata. Tapi harap menghormati mereka yang beribadah, banyak keluhan dari masyarakat sekitar, pengunjung tidak menghormati rumah ibadah dan mereka yang beribadah seperti mengambil foto seenaknya.

waktu yang paling tepat untuk mengunjungi tempat ini adalah pagi,

NP
@agapratama

Thursday, October 24, 2013

Indonesia's Sketchers Sketch Gathering - Petak Sembilan (Gang Gloria)

(klik gambar untuk memperbesar)

Indonesia's Sketchers
S K E T C H   G A T H E R I N G

PETAK SEMBILAN (GANG GLORIA)
GLODOK

Sabtu
November 2, 2013

07.30 pagi - selesai (perkiraan pukul 12.00 WIB)

meet point : Depan jalan masuk Gg. Gloria (Pasar Gloria)

Gratis !

Bawa peralatan menggambarmu

 ========================================================================

Salah satu ciri khas yang umum terdapat disetiap sejarah suatu kota adalah terdapatnya permukiman Tionghoa atau biasa disebut Pecinan (Chinatown) di kota tersebut. Kawasan Cina memiliki satu kendali penting selalu dalam sejarahnya menjadi penopang sekaligus jantung perekonomian. Tak heran jika pecinan terdapat hampir di berbagai kota besar di Dunia.

Jauh sebelum Belanda membangun Batavia, orang-orang Cina sudah tinggal di sebelah timur muara Ciliwung, tak jauh dari pelabuhan Sunda Kelapa. Kedatangan penduduk Cina ini dimulai sebelum abad ke-7. Pada masa tembok Batavia masih berdiri kokoh, warga Cina masih bebas keluar masuk dan tinggal di dalam Kota. Lalu sekitar tahun 1740-an terjadilah pembantaian warga Tionghoa di Batavia. Sehingga Mereka ditempatkan di luar tembok yang sekarang kita kenal sebagai Glodok.

Satu lokasi terkenal di Glodok adalah Petak Sembilan, yang juga akan kita datangi terdapat banyak sekali peninggalan dari perjalanan panjang pecinan tersebut. Selain peninggalan, beberapa budaya tionghoa masih sangat melekat dengan keseharian mereka, seperti ibadah, tata cara makan, pengobatan, Pasar, dll. Petak Sembilan juga dikenal sebagai pusat obat tradisional Cina. Obat Cina juga menjadi tradisi khas yang sudah populer sejak era Kolonial.



INFO TRANSPORTASI PUBLIK

- TRANSJAKARTA 
Halte terdekat Glodok

- COMMUTERLINE
Stasiun BEOS + jalan kaki +/- 1 km kearah ITC Glodok

CONTACT PERSON
ANDRY
0813 1677 2996

NUGRAHA
0878 8008 8766






Monday, August 19, 2013

Sketchwalk & Gathering Agustus 2013

Jaksa Street Fiesta 
Jalan Jaksa



24 Agustus 2013
16.00 - 23.00

Meet point :
Kantor kelurahan Kebon Sirih

Contact :
087880088766 (Nugraha)
@agapratama

Jadwal Acara : 




video by ockland23 

Friday, August 9, 2013

Berjalan Kaki, Menyenangkan ? Bagaimana Menurut Anda ?

Menikmati Kota dengan Berjalan Kaki

Menikmati jalanan kota beserta pemandangannya tidak hanya dengan menaiki kendaraan. Berjalan kaki juga merupakan hal yang tidak kalah menyenangkan, karena dengan berjalan kaki kita bisa menikmati setiap denyut kota tanpa sekat dan batasan. 

Buat saya, sebuah kota yang baik adalah kota yang memiliki trotoar yang tertata dengan baik pula. Sempat saya mengitari Jalan Jaksa, Jakarta Pusat salah satu tempat wisata yang dimana mayoritas pengunjungnya berjalan kaki untuk menikmati kawasan tersebut. Namun, melihat kondisi trotoar yang beralih fungsi menjadi berbagai macam seperti tempat parkir motor, warung, grobak, dll malah menimbulkan kesan kesemrawutan. Saking penuhnya trotoar tersebut dengan kesemrawutan tersebut banyak pejalan kaki lebih memilih berjalan di jalanan kendaraan bermotor yang seringkali menimbulkan kemacetan.

Bagaimana trotoar menurut anda ?






Tambahan :

Yeay, selamat untuk berita menyenangkan bagi pengguna kereta !


Selain menggambar, saya juga digambar oleh seorang juru gambar portrait cepat mas Toto BS : 

Saya


Pak Hag

Ibu Iwul

Wednesday, April 17, 2013

Beos, Bemo, dan Cerita Seru di Dalam Kabin

Front Cabin of Bemo (WIP) | 30X21 cm | Watercolor on Moleskine

Kemarin sempat nyantai di kabin belakang Bemo yang sedang mangkal dari panas teriknya matahari sekitaran Beos. sempat ngobrol juga bareng beberapa anggota PBJ (Paguyuban Bemo Jakarta) salah satunya Mujiono karena persis di belakang Bemo tempat saya bersandar, dia ikut dalam obrolan kami sambil ngelap bemo hijau nya.


"Berharap yang masih ada sekarang tidak hanya akan menjadi cerita kedepannya" 
- Mujiono, Anggota PBJ


Begitulah celetukannya ketika saya sedang menggambar, mengenai harapannya yang ingin sekali bemo masih bisa dinikmati ratusan tahun kedepan oleh generasi-generasi baru.

@agapratama


Monday, April 1, 2013

Kedai Jamu dan Kopi, Suwe Ora Jamu

tinta, cat air di Nude Book | 15 x 15 cm (spread) | 2013


Jamu adalah sebuah sebutan dari orang Jawa untuk ramuan obat dari tetumbuhan (herbal) tanpa menggunakan bahan kimia sebagai zat tambahan.

Sebuah kedai di Petogongan yang cukup unik untuk kini, ditengah maraknya cafe menjajakan kopi, teh atau bir, kedai ini malah menjual jamu. dengan harga yang sangat terjangkau. unik sekali cafe ini, ketika saya masuk bisasanya sebuah kedai kopi, teh, atau bir didatangi oleh golongan umur yang sudah terkotak-kotakkan karena fungsinya untuk bertemu rekan bisnis atau belajar,dll. Tapi dikedai ini malah ada beberapa anak-anak kecil yang lumayan pecicilan lari sana sini, ada geng ibu, ada juga yang sedang rapat, ada juga yang sedang belajar dan kumpul keluarga (ya saya kumpul keluarga disini).

Jamu yang saya cicipi adalah Gingseng Prakoso untuk memelihara kesehatan, menambah stamina, menyegarkan badan.

unik, tempat yang juga nyaman, saya jatuh cinta sama Suwe Ora Jamu :)

Monday, March 25, 2013

SketchWalk 24 Maret 2013, bandung

Hai teman-teman sketser se-Indonesia! lama tak upload :)
Kali ini saya ingin menulis tentang acara sketchwalk bandung pada hari minggu kemarin.

Dimulai pada pukul 9 pagi dengan titik temu di depan gerbang ITB jl. ganesha, acara ini di prakarsai oleh Mas Thamrin (sketcher, arsitek) yang kemarin baru saja pulang dari event Sketchwalk Chaophraya di Thailand pada bulan Februari.

Ini adalah acara 'dadakan' - yang mana ada seorang teman dari Thailand yang sedang berada di bandung, Mr.Decha Charoenchai mengajak untuk dapat bersketsa bersama sebelum ia kembali lagi ke Thailand beberapa waktu mendatang.

      Titik awal objek sketsa kali ini di mulai dengan bangunan Aula Barat kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Struktur atap bangunan yang sangat khas dan ikonik telah identik dengan kampus ini. Sudut pandang dalam sketsa ini diambil dari dalam gerbang itb, tepat di depan pos satpam, di dekat jam dinding.


Selama kurang lebih 3 jam-an, teman-teman sketser berkutat di seputaran area ini. Ada pula yang mengambil objek di bagian dalam kampus, yang memiliki view tak kalah menarik. Teman kita Mr. Decha pun terlihat sangat antusias dengan aktifitas sketsanya



Untuk teman-teman IS Bandung sendiri, ini menjadi semacam temu kangen setelah sekian lama tidak berjumpa -beberapa teman ada yg telah berada di luar bandung dalam waktu lama- , sehingga acara ini juga dihabiskan dengan bertukar cerita, bercanda, dan bercengkrama sambil ber sketsaria


Rencana awal Mas Thamrin mengenai sketch walk ini adalah; setelah dari itb, kita akan berjalan kaki menyusuri sungai Cikapundung ke arah Ciwalk, yang di sinyalir akan banyak sekali view menarik mengenai sungai dan suasana perkampungan di pinggiran sungai Cikapundung. Namun pada saat makan siang, mendung sudah menggelayut di langit bandung, sehingga rencana melalui rute tersebut menjadi tak kondusif lagi.

Urung ke kawasan perkampungan sungai cikapundung, teman-teman sepakat untuk meneruskan acara hari ini ke Selasar Sunaryo Art Space di daerah dago pakar. dengan pertimbangan; apabila turun hujan acara sketsa masih bisa di lanjutkan di dalam ruangan.

                                                                                               makan siang sketsa

Sambil menunggu kedatangan Kang Ichsan, seniman Cat air kenamaan kota bandung yang rencananya akan datang bergabung, setelah makan siang, beberapa teman melaksanakan ibadah shalat di Mesjid Salman itb. Mesjid ini terletak bersebelahan dengan Taman Ganesha.
Pada sesi interval ini pun, ternyata banyak pula sketsa yang ditelurkan. Objeknya tidak lain dan tidak bukan adalah Mesjid Salman itu sendiri dan suasana disekitarnya.




Setibanya di Selasar Sunaryo acara sketsa di lanjutkan. Selasar ini merupakan Art Gallery yang terletak di jl. bukit pakar timur, di daerah atas kota bandung. Masing-masing pun mulai sibuk dengan peralatannya. Tampak di bawah Mas Thamrin sedang men-sketsa Amphitheater Selasar, yang terletak di bawah cafe.
sketsa yang satu ini merupakan hasil karya Kang Ichsan.
Amphitheater Selasar Sunaryo

Sementara diatas, teman-teman yang lain juga tak kalah serunya. Suasana cafe menjadi objek pilihan untuk di sketsa
Sambil berbincang-bincang santai diselingi minuman dan makanan ringan, perhatian mereka tetap tak lepas dari kertas gambar.
Selama kurang lebih 3 jam, para sketser telah berhasil mendapat cukup banyak sketsa. Dan acara hari itu pun diakhiri dengan sesi foto bersama. Hari minggu yang menyenangkan
Untuk acara selanjutnya, sketchwalk akan diadakan pada hari minggu tanggal 7 april 2013 -dua minggu lagi.
Bagi teman-teman yang ada dan sedang berada di bandung silahkan datang bergabung, untuk info selanjutnya akan kabarkan melalui facebook. Terimakasih untuk sketching & sharingnya, teman-teman. Terimakasih atas berbagi ilmu-pengalamannya, Mas Thamrin, Kang Ichsan. Sampai jumpa di event selanjutnya
Salam sketsa!
sketchwalk at Selasar Sunaryo, afternoon session.

------------------------------------------------
foto2 dok. Mas Thamrin. diambil dari :
*Sketchwalk @bandung page, 24 maret 2013 : http://www.facebook.com/events/397018490396984/


Wednesday, March 20, 2013

BEMO Rasa Baru

"Nah, itu mas orangnya... itu yang kepalanya plontos pakai kaos badannya besar. Dia tuh orang dibalik bemo ini." Seru salah seorang anggota Paguyuban Bemo Jakarta (PBJ) sambil menunjuk kearah Enrico Halim. Proyeknya yang satu ini dinamai Bio Bemo. Bemo yang satu ini tidak lagi mengeluarkan asap dan berisik, karena bemo ini bertenaga listrik.


Jurnal : BioBemo di Balai Kota | Tinta dan cat air di atas kertas| 18.5 x 18.5 cm | 2013

"Bemo ini lebih enak dan nyaman juga irit" Jelas salah satu anggota PBJ yang juga pernah menjajal bemo listrik ini. Perbedaan selain sumber tenaganya adalah bahan dasar body dari bemo ini berbahan fiber, berbeda dengan bemo buatan daihatsu yang menggunakan bahan plat sebagai body-nya guna untuk memperingan beban. karena secara logika kerja dinamo tidak sekuat kerja bemo pendahulunya. Ya, itu juga pertanyaan yang mayoritas dilontarkan sopir Bemo di bendungan hilir. "Bagaimana jika mengangkut penumpang ?" begitulah inti pertanyaan mayoritas dari mereka. saya empat menanyakan ini langsung ke Enrico sendiri via message fb. berikut kutipan jawaban dari Enrico :

NP : mas enrico, keren aku udah liat page bio bemomu. banyak pertanyaan nih, salah satunya listrik yg dihasilkan bemo itukan berasal dari dinamo, apakah tenaga dinamo kuat mengangkut penumpang yang setara dengan bemo yang sekarang ada ?
oh iya pertanyaan ini mewakili beberapa pertanyaan sopir bemo yang kemarin aku sempat ngobrol sama mereka di pasar bendhil 

EH : Halo Mas Nugraha,
Ya, itu pertanyaan yang juga terlontar pada saat BioBemo mampir ke pangkalan Benhil dekat kali.
Memang masih harus diuji secara benar untuk menjawab pertanyaan itu. Kemarin baru dicoba dengan mengangkut enam orang dewasa di belakang dan 10 anak2.. belum bermasalah.
Menurut teori, beban yang dapat diangkut oleh motor 10KW itu sebesar 1,100 Kg.
Terima kasih mas..

Selain masalah penumpang tersebut, salah seorang anggota PBJ juga sempat curhat mengenai kinerja bemo ini, yaitu masa aktif baterai nya. Kini bemo ini bisa mencapai 40km untuk satu kali cas, sedangkan menurut pengakuan salah seorang anggota PBJ tersebut mereka membutuhkan tenaga yang bisa mencapai hingga 80km. 
Semoga proses perizinan bemo ini bisa berjalan lancar sehingga bisa terus disempurnakan. Semoga bemo ini bisa turut mewarnai ramainya jalanan Jakarta. 

untuk mengikuti keseharian BEMO ini bisa mengunjungi :
biobemo.tumblr.com

Monday, March 18, 2013

RELASI MANUSIA DAN ALAM DI PASAR KEMBANG CIKINI


Kalau masih ada yang guyon tentang judul postingan ini dengan menghubungkannya sama penyanyi dangdut adiknya Vety Vera berarti anda sudah basi banget hehe...

Sabtu kemarin Indonesia's Sketchers Pusat mengadakan acara Sketching & Sharing di Pasar Kembang Cikini. setelah berkumpul di titik temu tukang siomay stasiun Cikini, saya bersama teman-teman sketcher langsung menuju Pasar Kembang Cikini yang ada di seberang stasiun...masuk gang sedikit.

Maaf ya monyet...
Di sana saya menemukan dua contoh kasus tentang kesemena-menaan manusia terhadap alam, khususnya terhadap hewan dan bunga(tumbuhan). Waktu baru datang dan sedang mencari obyek sketsa, datanglah serombongan pengamen topeng monyet. Dulu saya tertawa kalau melihat atraksi yang mereka pertunjukkan...tapi kalau ditanya sekarang akan lain soal. Miris saya melihat bagaimana pengamen2 itu memperlakukan monyet piaraan mereka...yang mereka andalkan kelincahannya untuk mencari sesuap nasi. Bagaimana tidak...monyet itu naik semacam motor2an dan diikat rantai lehernya lalu ditarik kesana kemari agar terkesan sedang balapan. Ditariknya juga dengan kasar dan keras...kadang dibuat jatuh. Saya jamin pasti sakit. Kalau ada yg bilang.."ah itu kan cuma monyet", silakan bayangkan diri anda jadi monyet itu.

Semoga berbahagia...

Si bapak lagi merangkai bunga. Maskulin feminin...

Yang kedua ya bunga2 itu...berapa banyak yang dipetik cuma untuk dipakai manusia mengucapkan selamat, menyatakan cinta, ataupun duka cita. Setelah itu ya dibuang saja layu musnah jadi debu (mirip judul lagu ya..).
Saya nggak tahu apakah sudah ada usaha konservasi terhadap bunga-bungaan. Ah entahlah...saya cuma kadang merasa nggak enak hati saja. Eksploitasi kita terhadap alam ini terasa sudah berlebihan...kadang malah bukan untuk hal yang esensial.

Ngeri juga kalau alam diberi kemampuan "balas dendam" macam di film The Happening itu ya...Semoga tidak. Kita saja yang perlu tahu batasannya.

Cikini, 16-03-2013
YBD

Wednesday, February 20, 2013

Bandung, Bandung





Sketsa dari dua liburan ke Bandung.
Jalan Dago | Pemandangan dari Kamar 308, The Valley | Kamar 308, The Valley

Wednesday, January 9, 2013

Spontanitas dalam Goresan Sketsa


"Menggambar sebuah objek dengan
spontan dan tak punya kewajiban untuk
mempermanis gambar tersebut rasanya
menjadi kebebasan mutlak mereka."

Sketcher atau penyeket, yang tergabung dalam Indonesia’s Sketchers, memang mengamini kebebasan
tersebut. Bagaimana tidak, jika kebanyakan hasil dari menggambar akan lebih menarik perhatian dan disebut indah ketika goresan gambar tersebut tertata dengan rapi, disketsa, keindahan itu terlihat bila sebuah gambar dengan garis-garis yang agak karutmarut berhasil menunjukkan
ciri ataupun sisi humanis dari sebuah objek.

Bebas, spontan, dan tidak membutuhkan keakuratan garis barangkali menjadi paham yang digunakan oleh para penyeket. Mensketsa objek nyata yang ada di hadapan mereka dalam beberapa menit dilakukan oleh para penyeket dengan menggunakan paham tersebut.


Kawasan Pasar Antik, Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat.
Koordinator Program Indonesia’s Sketchers Nashir Setiawan mengatakan, meski spontan dan bebas,sketsa yang dilakukan kelompoknya tersebut memang tidak dilakukan lewat objek yang hanya ada di khayalan atau tidak nyata.”Sketsa itu kan sifatnya lebih spontan. Makanya, digambarnya pun langsung pakai pen. Jika ada garis yang salah atau kurang akurat, tidak masalah jika langsung ditabrak. Tapi yang pasti sketsa itu hasil dari gambar melihat langsung sebuah objek,bukan dari foto ataupun imajiner,”tuturnya.

Penyeket yang juga bekerja sebagai dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara itu menceritakan bahwa aktivitas yang dilakukan Indonesia’s Sketchers selama ini memang tidak memiliki kriteria khusus dalam penentuan objek. Meski begitu, program bernama Sketsa Bersama yang dilakukan satu bulan sekali itu biasa memilih tempat tempat pusat keramaian.


”Sketsa itu kan sifatnya lebih spontan.
Makanya, digambarnya pun
langsung pakai pen.”
NASHIR SETIAWAN
[Koordinator Program
Indonesia’s Sketchers]


Sebelum menggelar Sketsa Bersama, mereka terlebih dahulu berkumpul dan berembuk untuk menentukan lokasi menggambar mereka. ”Biasanya kalau sudah ketemu lokasinya, kita akan menentukan objek apa dari sekitar tempat tersebut yang dapat digambar. Tidak semua bisa digambar karena yang digambar itu harus objek yang bisa mencirikan atau salah satu keunikan wilayah tersebut,”katanya.

Nashir mengatakan, tempat wisata ramai menjadi salah satu tempat yang tepat untuk gelaran rutin mereka. ”Kita pilih tempat yang lebih terbuka. Ini juga agar dapat diapresiasi oleh orang lain,” imbuhnya. Pada saat itulah, tambah Nashir, Indonesia’s Sketchers kemudian menemukan orangorang baru yang tertarik dengan dunia gambar-menggambar ini. Tidak sampai di situ,kegiatan mensketsa ini pun kemudian mempersilakan para anggota Indonesia’s Sketchers atau masyarakat yang baru bergabung untuk menggelar hasil sketsa mereka.

Sketsa-sketsa tersebut digelar bukan untuk dijual, melainkan dipajang agar dapat langsung dikomentari apakah masih kurang atau sudah bagus. Kegiatan para anggota Indonesia’s Sketchers ini juga dapat dilihat dengan mudah di ruang seni terbuka seperti Taman Suropati ataupun Kota Tua. Mereka lebih sering mensketsa bangunan atau landscape.


Menurut Nashir,objek tersebut dapat disketsa dengan lebih cepat dibandingkan menggunakan manusia sebagai objek. ”Memang kalau bertemu itu kita lebih banyak menggambar landscape karena lebih cepat. Objek yang stay dan tidak bergerak, lebih membutuhkan sedikit waktu. Sedangkan menggambar orang itu pasti akan lebih banyak waktu karena mereka bergerak,”katanya.

Salah satu anggota Indonesia’s Sketchers Toni Malakian menceritakan pada awalnya sebuah sketsa dibuat tanpa perlu menggunakan teknik. Sulit mungkin,namun ada kesenangan tersendiri yang dihasilkan dari sketsa-sketsa tersebut. ”Untuk awalnya sebenarnya enggak perlu pakai teknik. Kita pakai intuisi aja, pakai feeling, dan kejelian mengamati,” katanya.

Dari sana, kata Toni, penyeket akan mengasah kepekaannya dalam mengamati sebuah objek. Merekam objek dengan cepat dalam ingatan adalah hal yang penting. ”Saya sering menggambar orang.Lagi asyikasyiknya bikin sketsa, eh dia pergi. Tapi, itulah asyiknya. Karena kita sudah menghafal bentuk kaki atau elemen lainnya, jadi bisa kita teruskan sendiri,” akunya.

Indonesia’s Sketchers awalnya dibentuk karena keinginan seorang wanita bernama Atit Dwi Indarty, 27, yang merasa penyeket di Indonesia tidak memiliki wadah sendiri. Padahal di dunia sudah ada Urban Sketchers yang anggotanya terdiri atas para penyeket dari seluruh dunia. Usut punya usut, Atit akhirnya bertemu Dhar Chedar,43,yang merupakan kontributor Urban Sketchers di Indonesia.

Dari sanalah keduanya mengumpulkan para penyeket Indonesia dalam satu komunitas dan akhirnya terbentuk pada Agustus 2009. Nashir mengatakan bahwa Indonesia’s Sketchers saat ini sudah mengumpulkan lebih dari 5.000 anggota, baik yang aktif ataupun tidak aktif dari seluruh Indonesia.

Di Jakarta ada sekitar 1.500 orang,yang aktif di angka 30-50 orang. Dalam waktu dekat ini, Nashir mengatakan, Indonesia’s Sketchers berencana bertemu untuk membahas program lebih lanjut yang akan mereka lakukan. ●  Harian Seputar Indonesia | Reporter: Megiza


*Liputan Indonesia's Sketchers di Harian Seputar Indonesia.

Monday, November 26, 2012

Phoenam - Kedainya Pelaut


Sudah banyak pasti dari kalian yang pernah mencoba ataupun mengetaui tentang Kopi Tana Toraja, bisa dibilang sebagai salah satu kopi yang prestasinya membanggakan dan sudah cukup ikonik akhir-akhir ini. Saya ngga akan panjang bicara soal Kopi Toraja ini karena saya bukan orang yang teoritikal soal kopi. Kali ini saya mendapati kesempatan untuk menggambar bersama teman yang sudah lama sekali ngga gambar bareng dan dia adalah Puppetvector (@puppetvector) dulu kita sama-sama gambar bareng di Jakarta Sketch Group. 

Menyambung soal Toraja tadi, saya akan membahas tentang sebuah kedai kopi tua yang berasal dari tanah kelahiran Kopi Toraja. Kali ini saya di temani juga oleh Bapak Albert, generasi kedua pemilik kedai ini. Sedikit cerita tentang kedai kopi Phoenam yang berawal dengan nama Phoe Nam Cold Drinks didirikan pada tahun 1946 di kawasan Jl Nusantara, Makassar. Dikepalai oleh 3 orang bersaudara dari ras Tiong hoa berasal dari Marga Liong Hainam. Salah satu pendiri awal Phoenam adalah ayah dari Bapak Albert bernama Liong Thay Hiong. Phoe Nam sendiri memiliki arti Persinggahan Selatan. Pada awalnya Phoe Nam Cold Drinks adalah sebuah kedai yang menjual Bir, karena letaknya berada dekat dengan pelabuhan dan target market mereka adalah pelaut (Selain suku Toraja, Makassar juga terkenal dengan suku Bugis yang kebanyakan mereka adalah pelaut). 

Pada tahun 1969 Pak Albert lulus SMA dan sejak itu ia sering bolak-balik ke Jakarta untuk berlibur. Tongkrongan favoritnya adalah Warkop Warung Tinggi di wilayah Kota Tua. Pak Albert bercita-cita untuk menjadi Hakim namun ketika ingin mendaftarkan diri ke Universitas Hasanudin ia mendapat penolakan dari Ayahnya. Dengan kepala dingin beliau akhirnya membantu ayahnya mengelola kedai. 




Tahun 1973 Ia menetap di Jakarta Barat saat itu Pak Albert tidak punya pekerjaan tetap. Beliau bercerita saat itu yang paling sering ia lakukan adalah bertemu teman-temannya di Kedai Warung Tinggi. Sekitar tiga atau empat bulan ia rutin pulang ke Makassar sampai pada tahun 1979 terjadi suatu kasus yang mengharuskan ia menstop penjualan bir, dan saat itu Phoe Nam Cold Drinks berubah menjadi Kopi Thiam Phoenam.

Pak Albert sendiri menceritakan bahwa ia masih kerabat dengan Killiney Kopi-Tiam sebuah toko kopi tua dan tersohor di 67 Killiney Road, Singapore (dekat Orchard). Pak Albert juga mencoba untuk meracik kopinya sendiri sampai akhirnya ia mencampurkan Salah satu kopi Sumatra dengan kopi dari daerahnya Toraja. Tak disangka pada 8 Juli 1997 ia membuka Outlet Kopi Thiam Phoenam di Gatot Subroto, lalu pada tahun 2003 ia Pindahkan Outletnya ke Jl Wahid Hasyim No 88 tempat dimana saya menggambar sekarang.



Ini pertama kalinya saya kesini, suasana di kedai ini benar-benar suasana kopi yang saya harapkan. Ketika saya masuk saya malah ngga tahu yang mana pegawainya. Sampai saya duduk dan saya ditanyakan mau minum apa. Lebih dari itu saya bisa menulis artikel ini karena Ownernya (Pak Albert) juga ikut duduk dan ngobrol bareng. Bukan karena gerak-gerik menggambar saya dan puppetvector, tapi semua tamu diperlakukan dengan sambutan yang sama. Mayoritas pendatangnya adalah orang Makassar, menurut Pak Albert suasananya tidak jauh berbeda dengan di Makassar. Bisa menjadi rekomendasi untuk kalian yang ingin merasakan atmosfir Toraja dan Bugis.

Kali ini saya mendokumentasikan suasana kopitiam, ketika pak Albert ngobrol dengan pelanggannya. Puppetvector juga mendokumentasikan suasana dapur Phoenam. Kami mendokumentasikan dalam bentuk live sketch di daily sketchbook masing-masing.

Buat saya kopi itu bukan hanya minuman yang tersaji di dalam gelas atau cangkir. Kopi adalah kehangatan atmosfir yang terjadi didalam sebuah ruang sosial. Kopi terlalu sempit untuk dinilai hanya sekecil isi cangkir, kopi itu ada karena ada aku dan kamu. Duileeeeeeh !

Selamat ngopi, salam !



Tulisan ini untuk artikel ke 2 saya di web @KopiKeliling
http://kopikeliling.com/news/kopitiam-phoe-nam-kedainya-pelaut.html

Sunday, September 9, 2012

2 minggu di tambang batu bara

Crane Car

Setelah tiba di Nunukan 13 agustus 2012, keesokan harinya saya harus berangkat ke pedalaman sebakis untuk menikmati pekerjaan sebagai dokter jaga. Suasana pedalaman sudah tidak asing lagi bagi saya, mengingat sebelumnya pernah bertugas di pedalaman pulau Gebe Halmahera Tengah, Maluku Utara selama 2 tahun beberapa waktu lalu.

Berangkat melalui pelabuhan Liem Hie Jung (orang lokal menyebutnya "lamijung") kami bertolak bersama karyawan tambang lainnya dengan speedboat kecil ke arah barat sekitar satu jam perjalanan. Meski tampak seperti lautan, beberapa perairan di area kabupaten Nunukan seyogiyanya adalah sungai-sungai besar yang berisi buaya:D di beberapa tempat menurut kesaksian penduduk lokal didiami buaya dengan badan selebar daun pintu.. Ini membuat perjalanan semakin mendebarkan diiringi ombak yang mulai tinggi menjelang petang.

Setiba di pelabuhan tambang, kami dijemput SUV pajero sport yang membawa kami dalam perjalanan tak kalah serunya. Mesin diesel turbo commonrail yang konon merupakan salah satu mesin diesel tercanggih saat ini menghasilkan suara tidak selayaknya mesin diesel biasa:) bunyi kasar khas sangat minim berganti siulan dan hentakan tenaga besar di setiap putaran mesinnya.

tempat paling favorit : kantin (provided by: Boga Mitra Sarana)
kantin eksekutif
"Land Vehicle" mitsubishi triton
suasana di sekitar Kantor (mensketsa dari titik sinyal handphone terkuat:))





bpk Hadi (imam Sholat ied)
bersama pak Tumidjan sekdes setempat
kediaman pak Hadi..
Waktu yang kurang menguntungkan selama di tambang, kebetulan berada dalam suasana Romadhon, bahkan mendekati lebaran segera dimanfaatkan menemui teman baik di daerah transmigrasi Sei Menggaris. Rata-rata berprofesi sebagai petani kelapa sawit dan mengaku cukup tentram hidup di sana. Saat lebaran mengikuti sholat ied berada di tengah-tengah mereka serasa (meski tidak sama) berada di tengah keluarga. Dengan kondisi mereka yang menurut ukuran saya serba kekurangan, sambutan dan jamuan yang disuguhkan agak sedikit terlalu mewah buat ukuran saya.
saat khotbah idul Fitri 1433H/ 19 Agustus 2012



bersama Perawat PT Duta Tambang Rekayasa; bpk Heru Hermawan

perjalanan pulang ke Nunukan

 terima kasih atas kerjasama dan keramahtamahan PT Duta Tambang dan Masyarakat Transmigran Sei Menggaris, semoga kerja sama ke depan terjalin lebih baik dan semoga bertemu kembal di kesempatan yang lain:)