Wednesday, January 9, 2013

Spontanitas dalam Goresan Sketsa


"Menggambar sebuah objek dengan
spontan dan tak punya kewajiban untuk
mempermanis gambar tersebut rasanya
menjadi kebebasan mutlak mereka."

Sketcher atau penyeket, yang tergabung dalam Indonesia’s Sketchers, memang mengamini kebebasan
tersebut. Bagaimana tidak, jika kebanyakan hasil dari menggambar akan lebih menarik perhatian dan disebut indah ketika goresan gambar tersebut tertata dengan rapi, disketsa, keindahan itu terlihat bila sebuah gambar dengan garis-garis yang agak karutmarut berhasil menunjukkan
ciri ataupun sisi humanis dari sebuah objek.

Bebas, spontan, dan tidak membutuhkan keakuratan garis barangkali menjadi paham yang digunakan oleh para penyeket. Mensketsa objek nyata yang ada di hadapan mereka dalam beberapa menit dilakukan oleh para penyeket dengan menggunakan paham tersebut.


Kawasan Pasar Antik, Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat.
Koordinator Program Indonesia’s Sketchers Nashir Setiawan mengatakan, meski spontan dan bebas,sketsa yang dilakukan kelompoknya tersebut memang tidak dilakukan lewat objek yang hanya ada di khayalan atau tidak nyata.”Sketsa itu kan sifatnya lebih spontan. Makanya, digambarnya pun langsung pakai pen. Jika ada garis yang salah atau kurang akurat, tidak masalah jika langsung ditabrak. Tapi yang pasti sketsa itu hasil dari gambar melihat langsung sebuah objek,bukan dari foto ataupun imajiner,”tuturnya.

Penyeket yang juga bekerja sebagai dosen di Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Tarumanegara itu menceritakan bahwa aktivitas yang dilakukan Indonesia’s Sketchers selama ini memang tidak memiliki kriteria khusus dalam penentuan objek. Meski begitu, program bernama Sketsa Bersama yang dilakukan satu bulan sekali itu biasa memilih tempat tempat pusat keramaian.


”Sketsa itu kan sifatnya lebih spontan.
Makanya, digambarnya pun
langsung pakai pen.”
NASHIR SETIAWAN
[Koordinator Program
Indonesia’s Sketchers]


Sebelum menggelar Sketsa Bersama, mereka terlebih dahulu berkumpul dan berembuk untuk menentukan lokasi menggambar mereka. ”Biasanya kalau sudah ketemu lokasinya, kita akan menentukan objek apa dari sekitar tempat tersebut yang dapat digambar. Tidak semua bisa digambar karena yang digambar itu harus objek yang bisa mencirikan atau salah satu keunikan wilayah tersebut,”katanya.

Nashir mengatakan, tempat wisata ramai menjadi salah satu tempat yang tepat untuk gelaran rutin mereka. ”Kita pilih tempat yang lebih terbuka. Ini juga agar dapat diapresiasi oleh orang lain,” imbuhnya. Pada saat itulah, tambah Nashir, Indonesia’s Sketchers kemudian menemukan orangorang baru yang tertarik dengan dunia gambar-menggambar ini. Tidak sampai di situ,kegiatan mensketsa ini pun kemudian mempersilakan para anggota Indonesia’s Sketchers atau masyarakat yang baru bergabung untuk menggelar hasil sketsa mereka.

Sketsa-sketsa tersebut digelar bukan untuk dijual, melainkan dipajang agar dapat langsung dikomentari apakah masih kurang atau sudah bagus. Kegiatan para anggota Indonesia’s Sketchers ini juga dapat dilihat dengan mudah di ruang seni terbuka seperti Taman Suropati ataupun Kota Tua. Mereka lebih sering mensketsa bangunan atau landscape.


Menurut Nashir,objek tersebut dapat disketsa dengan lebih cepat dibandingkan menggunakan manusia sebagai objek. ”Memang kalau bertemu itu kita lebih banyak menggambar landscape karena lebih cepat. Objek yang stay dan tidak bergerak, lebih membutuhkan sedikit waktu. Sedangkan menggambar orang itu pasti akan lebih banyak waktu karena mereka bergerak,”katanya.

Salah satu anggota Indonesia’s Sketchers Toni Malakian menceritakan pada awalnya sebuah sketsa dibuat tanpa perlu menggunakan teknik. Sulit mungkin,namun ada kesenangan tersendiri yang dihasilkan dari sketsa-sketsa tersebut. ”Untuk awalnya sebenarnya enggak perlu pakai teknik. Kita pakai intuisi aja, pakai feeling, dan kejelian mengamati,” katanya.

Dari sana, kata Toni, penyeket akan mengasah kepekaannya dalam mengamati sebuah objek. Merekam objek dengan cepat dalam ingatan adalah hal yang penting. ”Saya sering menggambar orang.Lagi asyikasyiknya bikin sketsa, eh dia pergi. Tapi, itulah asyiknya. Karena kita sudah menghafal bentuk kaki atau elemen lainnya, jadi bisa kita teruskan sendiri,” akunya.

Indonesia’s Sketchers awalnya dibentuk karena keinginan seorang wanita bernama Atit Dwi Indarty, 27, yang merasa penyeket di Indonesia tidak memiliki wadah sendiri. Padahal di dunia sudah ada Urban Sketchers yang anggotanya terdiri atas para penyeket dari seluruh dunia. Usut punya usut, Atit akhirnya bertemu Dhar Chedar,43,yang merupakan kontributor Urban Sketchers di Indonesia.

Dari sanalah keduanya mengumpulkan para penyeket Indonesia dalam satu komunitas dan akhirnya terbentuk pada Agustus 2009. Nashir mengatakan bahwa Indonesia’s Sketchers saat ini sudah mengumpulkan lebih dari 5.000 anggota, baik yang aktif ataupun tidak aktif dari seluruh Indonesia.

Di Jakarta ada sekitar 1.500 orang,yang aktif di angka 30-50 orang. Dalam waktu dekat ini, Nashir mengatakan, Indonesia’s Sketchers berencana bertemu untuk membahas program lebih lanjut yang akan mereka lakukan. ●  Harian Seputar Indonesia | Reporter: Megiza


*Liputan Indonesia's Sketchers di Harian Seputar Indonesia.

Monday, November 26, 2012

Phoenam - Kedainya Pelaut


Sudah banyak pasti dari kalian yang pernah mencoba ataupun mengetaui tentang Kopi Tana Toraja, bisa dibilang sebagai salah satu kopi yang prestasinya membanggakan dan sudah cukup ikonik akhir-akhir ini. Saya ngga akan panjang bicara soal Kopi Toraja ini karena saya bukan orang yang teoritikal soal kopi. Kali ini saya mendapati kesempatan untuk menggambar bersama teman yang sudah lama sekali ngga gambar bareng dan dia adalah Puppetvector (@puppetvector) dulu kita sama-sama gambar bareng di Jakarta Sketch Group. 

Menyambung soal Toraja tadi, saya akan membahas tentang sebuah kedai kopi tua yang berasal dari tanah kelahiran Kopi Toraja. Kali ini saya di temani juga oleh Bapak Albert, generasi kedua pemilik kedai ini. Sedikit cerita tentang kedai kopi Phoenam yang berawal dengan nama Phoe Nam Cold Drinks didirikan pada tahun 1946 di kawasan Jl Nusantara, Makassar. Dikepalai oleh 3 orang bersaudara dari ras Tiong hoa berasal dari Marga Liong Hainam. Salah satu pendiri awal Phoenam adalah ayah dari Bapak Albert bernama Liong Thay Hiong. Phoe Nam sendiri memiliki arti Persinggahan Selatan. Pada awalnya Phoe Nam Cold Drinks adalah sebuah kedai yang menjual Bir, karena letaknya berada dekat dengan pelabuhan dan target market mereka adalah pelaut (Selain suku Toraja, Makassar juga terkenal dengan suku Bugis yang kebanyakan mereka adalah pelaut). 

Pada tahun 1969 Pak Albert lulus SMA dan sejak itu ia sering bolak-balik ke Jakarta untuk berlibur. Tongkrongan favoritnya adalah Warkop Warung Tinggi di wilayah Kota Tua. Pak Albert bercita-cita untuk menjadi Hakim namun ketika ingin mendaftarkan diri ke Universitas Hasanudin ia mendapat penolakan dari Ayahnya. Dengan kepala dingin beliau akhirnya membantu ayahnya mengelola kedai. 




Tahun 1973 Ia menetap di Jakarta Barat saat itu Pak Albert tidak punya pekerjaan tetap. Beliau bercerita saat itu yang paling sering ia lakukan adalah bertemu teman-temannya di Kedai Warung Tinggi. Sekitar tiga atau empat bulan ia rutin pulang ke Makassar sampai pada tahun 1979 terjadi suatu kasus yang mengharuskan ia menstop penjualan bir, dan saat itu Phoe Nam Cold Drinks berubah menjadi Kopi Thiam Phoenam.

Pak Albert sendiri menceritakan bahwa ia masih kerabat dengan Killiney Kopi-Tiam sebuah toko kopi tua dan tersohor di 67 Killiney Road, Singapore (dekat Orchard). Pak Albert juga mencoba untuk meracik kopinya sendiri sampai akhirnya ia mencampurkan Salah satu kopi Sumatra dengan kopi dari daerahnya Toraja. Tak disangka pada 8 Juli 1997 ia membuka Outlet Kopi Thiam Phoenam di Gatot Subroto, lalu pada tahun 2003 ia Pindahkan Outletnya ke Jl Wahid Hasyim No 88 tempat dimana saya menggambar sekarang.



Ini pertama kalinya saya kesini, suasana di kedai ini benar-benar suasana kopi yang saya harapkan. Ketika saya masuk saya malah ngga tahu yang mana pegawainya. Sampai saya duduk dan saya ditanyakan mau minum apa. Lebih dari itu saya bisa menulis artikel ini karena Ownernya (Pak Albert) juga ikut duduk dan ngobrol bareng. Bukan karena gerak-gerik menggambar saya dan puppetvector, tapi semua tamu diperlakukan dengan sambutan yang sama. Mayoritas pendatangnya adalah orang Makassar, menurut Pak Albert suasananya tidak jauh berbeda dengan di Makassar. Bisa menjadi rekomendasi untuk kalian yang ingin merasakan atmosfir Toraja dan Bugis.

Kali ini saya mendokumentasikan suasana kopitiam, ketika pak Albert ngobrol dengan pelanggannya. Puppetvector juga mendokumentasikan suasana dapur Phoenam. Kami mendokumentasikan dalam bentuk live sketch di daily sketchbook masing-masing.

Buat saya kopi itu bukan hanya minuman yang tersaji di dalam gelas atau cangkir. Kopi adalah kehangatan atmosfir yang terjadi didalam sebuah ruang sosial. Kopi terlalu sempit untuk dinilai hanya sekecil isi cangkir, kopi itu ada karena ada aku dan kamu. Duileeeeeeh !

Selamat ngopi, salam !



Tulisan ini untuk artikel ke 2 saya di web @KopiKeliling
http://kopikeliling.com/news/kopitiam-phoe-nam-kedainya-pelaut.html

Sunday, September 9, 2012

2 minggu di tambang batu bara

Crane Car

Setelah tiba di Nunukan 13 agustus 2012, keesokan harinya saya harus berangkat ke pedalaman sebakis untuk menikmati pekerjaan sebagai dokter jaga. Suasana pedalaman sudah tidak asing lagi bagi saya, mengingat sebelumnya pernah bertugas di pedalaman pulau Gebe Halmahera Tengah, Maluku Utara selama 2 tahun beberapa waktu lalu.

Berangkat melalui pelabuhan Liem Hie Jung (orang lokal menyebutnya "lamijung") kami bertolak bersama karyawan tambang lainnya dengan speedboat kecil ke arah barat sekitar satu jam perjalanan. Meski tampak seperti lautan, beberapa perairan di area kabupaten Nunukan seyogiyanya adalah sungai-sungai besar yang berisi buaya:D di beberapa tempat menurut kesaksian penduduk lokal didiami buaya dengan badan selebar daun pintu.. Ini membuat perjalanan semakin mendebarkan diiringi ombak yang mulai tinggi menjelang petang.

Setiba di pelabuhan tambang, kami dijemput SUV pajero sport yang membawa kami dalam perjalanan tak kalah serunya. Mesin diesel turbo commonrail yang konon merupakan salah satu mesin diesel tercanggih saat ini menghasilkan suara tidak selayaknya mesin diesel biasa:) bunyi kasar khas sangat minim berganti siulan dan hentakan tenaga besar di setiap putaran mesinnya.

tempat paling favorit : kantin (provided by: Boga Mitra Sarana)
kantin eksekutif
"Land Vehicle" mitsubishi triton
suasana di sekitar Kantor (mensketsa dari titik sinyal handphone terkuat:))





bpk Hadi (imam Sholat ied)
bersama pak Tumidjan sekdes setempat
kediaman pak Hadi..
Waktu yang kurang menguntungkan selama di tambang, kebetulan berada dalam suasana Romadhon, bahkan mendekati lebaran segera dimanfaatkan menemui teman baik di daerah transmigrasi Sei Menggaris. Rata-rata berprofesi sebagai petani kelapa sawit dan mengaku cukup tentram hidup di sana. Saat lebaran mengikuti sholat ied berada di tengah-tengah mereka serasa (meski tidak sama) berada di tengah keluarga. Dengan kondisi mereka yang menurut ukuran saya serba kekurangan, sambutan dan jamuan yang disuguhkan agak sedikit terlalu mewah buat ukuran saya.
saat khotbah idul Fitri 1433H/ 19 Agustus 2012



bersama Perawat PT Duta Tambang Rekayasa; bpk Heru Hermawan

perjalanan pulang ke Nunukan

 terima kasih atas kerjasama dan keramahtamahan PT Duta Tambang dan Masyarakat Transmigran Sei Menggaris, semoga kerja sama ke depan terjalin lebih baik dan semoga bertemu kembal di kesempatan yang lain:)

Wednesday, September 5, 2012

Koffie Oentoek Toean dan Njonja Semoewa




Kopi Tiam Oey, pertama kali saya datang ke cabang Sabang. Saya langsung jatuh hati dengan tempatnya. Mengangkat tema peranakan yang kental dengan perkawinan budaya Melayu dan Cina. Suasana ini yang selalu membawa saya untuk memesan menu Kopi Soesoe Indotjina Panas. Saya ngga pernah memesan menu minuman lain selain ini. Suasana ini selalu membuat saya seperti tidak ngopi di restoran, melainkan ngopi di rumah nenek.

Kali ini Kopi Tiam Oey buka di dekat rumah saya di Bekasi, persis di depan Kalimalang (Depan komplek Bumi Satria Kencana), langsung saya pesan menu andalan saya ini. menghabiskan kerjaan semalam suntuk, sambil menggambar menu pesanan saya.

Kopi Soesoe Indotjina Panas ini mungkin lebih dikenal dengan kopi yang disajikan seperti kopi vietnam. menggunakan vietnam drip (saya sebutnya kopi lambat), kopi, dan condensed milk. disajikan diatas piring porslein kecil yang menggunakan corak peranakan. Kopi ini bebas ampas karena pembuatan kopi dengan drip membuat ampas tersebut tersaring. Akan lebih mantap bila ditemani sepiring pisang goreng.

Toko kopi ini buka sampai tengah malam dan harga yang cukup terjangkau. Selamat mencoba :)

-Nugraha Pratama
@agapratama

Thursday, August 23, 2012

Jakarta dan Monorail


Siang hari di  bawah teriknya matahari Tambun. beberapa orang terlihat sibuk merapikan sebuah kapsul besar yaitu sebuah lokomotif monorail. Monorail yang dikerjakan 100% tenaga lokal ini nantinya akan diaplikasikan di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia. Dengan kecepatan maksimal 60 km/jam kendaraan ini berkapasitas 125 orang / gerbong (3 gerbong / kereta).


Inilah penggerak Monorail tersebut. perbedaannya dengan kereta adalah terletak pada ban, kereta menggunakan roda besi, sedangkan Monorail menggunakan ban angin (ukurannya sebesar ban truk). Teknologi ini ditemukan di Jerman oleh seorang Insinyur bernama Alweg di tahun 60an. dan terus berkembang hingga saat ini.


Suasana workshop dan jalur uji coba monorail. Saya menggambar dari atas satu bangunan kecil, panasnya bukan main. 


Foto bersama tim Monorail  di sebelah saya adalah otak dari Monorail ini, Bapak Kunsan Nuryadi

"Setelah keberadaan angkutan-angkutan umum seperti KOPAJA, Busway, Commuterline, dll. Apakah Monorail bisa menjawab permasalahan hari ini di kemudian hari ?"


JAKARTA DAN MONORAIL, EFEKTIFKAH ?
Watercolor, ink on paper
14.8 x 21 xm (spread)
2012

-Nugraha Pratama
@agapratama

Monday, August 20, 2012

Idul Fitri A'la Jusuf Kalla


Open House yang diadakan di kediaman Jusuf Kalla di daerah Darmawangsa tepat tanggal 20 Agustus 2012 sangat ramai. Ini adalah open house yang saya ikuti kedua kalinya setelah tahun lalu saat beliau ulang tahun. Hiruk pikuk orang-orang yang kesana kemari, senggol sana senggol sini. Beberapa petinggi negara juga bersebaran, wajah-wajah tenar di televisi yang bisa di temui langsung. sebuah rumah yang tidak terlalu besar ini dipenuhi aura kekeluargaan yang terasa akrab. Namun, bukan itu lah yang paling menarik di open house ini. Dengan sangat jujur, yang paling menarik adalah makanannya. 

Masakannya sangat beragam, dari kuliner lokal sampai yang ke-arab-an ada disini dan bisa dinikmati sepuasnya. Saya hanya sempat menenggak lima macam masakan dan minuman dari sekian banyak macam. 




Yang pertama adalah Jus Kacang Hijau, rasanya manis ini adalah jus yang fresh dan ini minuman yang paling top !

Kedua, Sate Padang, rasanya tidak seperti umumnya sate padang. Tidak pedas, lebih gurih, lebih matang (agak gosong) mungkin kata yang tepat untuk rasa sate padang ini adalah mild.

Ketiga, Nasi Kebuli Al-Jazeera (Mandhi Ayam), dengan Basmati dan rasa timur tengah yang khas beraroma capulaga. saya mendapat potongan ayam terbesar hahaha, demi perut dan estetika menggambar (ayam 1/2 ekor dipotong vertikal).

Keempat, Telur Ikan Terbang, makanan ini menurut saya lebih cocok menjadi topping saat makan mie instan, sup, atau nasi goreng daripada digado. Masakkan ini menjadi top of the five pilihan pak Jusuf Kalla dari lima masakkan yang saya gambar.

Kelima, Buras, bentuknya kotak sekitar 8 cm x 8 cm. Buras adalah lontongnya orang makassar. cara memakannya disajikan dengan coto makassar. rasanya lebih gurih dari lontong dan ketupat.



Kondisi saya paling beruntung saat menggambar adalah mendapatkan kursi, ya kondisi saat berdiri cukup ramai, pengunjung bergilir tak henti-henti menciduk lauk pauk.


Foto bersama tuan rumah, Jusuf Kalla setelah memilih top of the five dari sketsa kuliner yang saya buat. masih banyak masakkan yang enak disini, tapi perut saya memiliki batasan, terima kasih pak Jusuf Kalla, semoga masih ada kesempatan Open House berikutnya !

-Nugraha Pratama
@agapratama

Sunday, August 19, 2012

The Eid 1433 H

MAKAN MAKAN
Mari kita bahas dari yang terenak dan tersedap dulu di upacara Idul Fitri 1433 H kali ini. Apa lagi kalau bukan "makanan". Kali ini di rumah saya disediakan Opor, Rendang, Sambal Goreng Ati + Pete, Semur (Arah Jarum Jam). Biasanya kita makan masakan ini menggunakan ketupat, tapi kali ini menggunakan lontong, dengan alasan lebih praktis.

MASJID


Masjid Darussalam adalah salah satu masjid yang memiliki kenangan untuk saya, dulu saya bermain di halaman masjid ini sewaktu saya masih kecil. Masjid ini sepertinya tidak ada perubahan dari dulu, termasuk pada bagian kubahnya, sewaktu kecil saya pernah bingung "kok masjid ini kubahnya ngga berbentuk bola seperti kubah umumnya ya ?" ahahaha. melihat kubahnya tetap begini saya jadi ingat dulu.


TAKBIRAN


Banyak sekali barisan "shaf" kali ini di halaman masjid. dan satu yang memancing mata saya adalah salah seorang yang duduk diatas kursi rodanya tapi tetap lantang meneriakan takbiran
 
KHOTBAH

Saya ngga denger betul khotbah yang dibicarakan, yang pasti intinya "jangan ikuti langkah setan" ya hahaha saya tahu itu adalah nasehat yang ngga pernah "mati" dari lahir sampai mati. Khotibnya juga banyak menyinggung soal sejarah Islam tapi terlalu banyak menyalahkan barat. ayolah jangan salahkan perkembangan. ya dulu Islam sempat menguasai 2/3 belahan dunia, tapi semua sisi dunia terus berkembang. bukan salah barat atau siapapun, mereka bergerak untuk idealnya mereka masing-masing.

Setelah Sholat ied selesai saya pulang melalui jalan yang berbeda, kita bersalam-salaman dengan para tetangga, ngobrol-ngobrol sambil makan-makan kudapan dan teh hangat. lalu saya sempat bertemu teman saya dari SMP (Silmy Kamila) yang lama ngga ketemu padahal tetanggaan. Sekitar sore saya baru pergi kerumah saudara saya untuk saling bersalam-salaman.

Karena tadi kita sudah bahas yang enak-enak, sekarang yang paling ngga enak.
Ya, Handphone anda akan terdengar berisik karena bunyi terus. Inilah yang paling saya benci, disaat saya sedang berinteraksi secara langsung saya juga harus ngobrol di HP ! tapi itu adalah konsekuensi HP dan keakraban lingkar hubungan antar manusia. Enjoy it !



SELAMAT LEBARAN DAN SELAMAT LIBURAN YA, YANG MUDIK JUGA HATI-HATI DI JALAN, JAGA EMOSI KARENA NGGA HANYA KAMU YANG KENA MACET.

SEMUANYA MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Nugraha Pratama
@agapratama

Tuesday, August 14, 2012

Satu Hari, Kuliner, dan Semarang

Jalan masih lancar, saya berangkat bersama keluarga (Bapak, Ibu, dan Adik). berniat untuk mengantar adik melihat kampusnya secara langsung dan memang ada kegiatan daftar ulang disana. kita berangkat tepat hari Jumat, tanggal 10 Agustus 2012 dan masih berpuasa. 

Setelah melewati Alas Roban kita berhenti sejenak di Gringsing untuk membeli beberaoa botol madu. Madu yang di jual sendiri berasal dari peternak madu gringsing, dengan beberapa varian seperti madu klengkeng, madu kopi, madu kapuk, madu multiflora, bee polen, bahkan tepung sari bubuk. Madu-mad u ini dikemas di berbagai ukuran botol (botol-botolnya pun botol bekas sambal, minuman, dll).


Sekitar jam 5 sore kita sampai di Semarang, saya langsung bertemu dengan salah satu makanan favorit saya, yaitu Loenpia/Lumpia (Spring Roll) salah satu oleh-oleh khas semarang. makanan ini dari namanya terlihat bahwa ada sentuhan budaya Cina. 

Saya beli lumpia di Jl Pemuda, posisinya tepat di depan Sri Ratu. Merknya Loenpia Mbak Lien, entah mengapa merk ini cukup diperhitungkan di Jakarta, Kedai Mbak lien dari dulu bentuknya kecil, hanya terdapat di pojokan saja, terdiri dari gerobak (dapur), kasir, dan tempat untuk packing. saya dapat rekomendasi ini dari tante saya.

Apa itu lumpia ? Seperti yang tadi saya bilang bahwa lumpia adalah makanan yang terlahir dari percampuran budaya Cina dalam adaptasinya di tanah Semarang (di Semarang memang banyak etnis Tiong hoa). 

Makanan ini berbentuk seperti Risoles dengan komposisi telur, rebung, udang (sekarang sudah ada varian ayam dan kepiting juga) dibalut kulit lumpia dari tepung. Disajikan dengan Bawang merah yang masih muda dengan daunnya dan cocolan (dipping) saus manis yang terlihat seperti ingus. tapi kalau menurut saya ke tiga elemen ini (bawang, lumpia, saus manis) sangat top ! meskipun beberapa orang makan hanya lumpianya saja. Lumpia memiliki ketahanan 2 hari diluar kulkas, dan bisa sampai 5 hari di dalam kulkas. disajikan dalam bentuk goreng ataupun basah (basahpun bisa langsung di makan).


Ini buat yang penasaran dan tidak percaya bahwa kedai lumpia Mbak Lien itu sedari dulu tidak bertambah besar, bentuknya masih terdiri dari satu gerobak, satu meja kasir, satu bilik untuk packing dan menyimpan barang-barang, serta dua kursi panjang sebagai ruang tunggu. terdapat di dalam gang.


Tidak lama lagi jam nya buka puasa, satu toko terdekat dari kedai lumpia Mbak lien ada satu toko yang sangat menarik mata saya, ya Toko Oen mungkin banyak yang sudah kenal, toko ini pertama buka di Jogja pada tahun 1922 yang akhirnya pindah ke Jl Pemuda, Semarang pada tahun 1936. Toko Oen menjual Western, Chinesse, Indonesian Food, kue kering, dan Es Krim ! ya suasana tuanya mengingatkan saya pada Ragusa di Jakarta. Bedanya dengan Ragusa, interior klasik Toko Oen lebih mewah dan lebih besar.


"Fiuh !" mungkin kata yang tepat untuk mengekspresikan bahwa sekarang waktunya istirahat ! hahaha, besok pagi harus sahur dan adik saya harus ke kampus di wilayah Tembalang, dan saya harus menyelesaikan 2 lukisan potret.

Sebelum saya tidur saya sempat kumpul-kumpul bersama teman-teman semarang, ada Naratama Pradipta (teman saya dari SMA) Juga teman-teman Karamba Art Movement di Coffee Toffee Tembalang. disana ada Ajis, Degi, dan Galih, trims banyak kawan !

nah inilah Hotel tempat keluarga kami menginap, tersedia sahur juga untungnya. letaknya tidak jauh dari kampus adik saya.


Terima kasih untuk teman Semarang  buat Naratama Pradipta yang udah nemenin saya muter-muter naik skuter matic biru nya, juga buat teman-teman Karamba Art Movement Ajis, Degi yang baru kenalan saat itu juga Galih yang semangat banget walaupun mohawknya sudah hilang, hehe (salam kangen, bro !) cepat sembuh (Galih menemui saya dengan kondisi masih menggunakan penyangga untuk berjalan, karena kecelakaan motor 4 bulan yang lalu).

Satu hari, Kuliner, Semarang
Tinta, Cat air, Kolase diatas kertas
14,8 x 21 cm (beberapa ada yang spread)
2012

@agapratama

Wednesday, August 1, 2012

Barisan Bajaj di Jalan Gandaria

Malam biasa membuat bajaj ini mangkal, bisa dibilang pinggir jalan Gandaria 1 menjadi pole sementara mereka. Saat ini saya sedang menemani Rama (Gogoporen), Basith (Puppetvector), dan Dika (Toolkit) makan nasi goreng di warung tenda di depan 1/15 Coffee yang nantinya akan menjadi tempat ACT (Kopi Keliling pameran).

Sedikit cerita bajaj adalah kendaraan berroda tiga dan berwarna oranye (sekarang sudah ada yang berwarna biru, menggunakan bahan bakar gas dan produksi baru). kendaraan bajaj oranye ini termasuk dalam kendaraan yang keadaannya hampir terancam punah, namun tak separah Bemo. Bajaj lebih sering bisa kita jumpai.



Tinta dan Cat air diatas kertas
(14.8 x 21 cm) x 2 - spread
2012

-Nugraha Pratama
@agapratama

Monday, June 25, 2012

Bogor Isn't That Long, Isn't That Far



Perpisahan membuat perjalanan saya cukup sedih, harus berpisah dengan seorang Dosen bernama Dea Latifah yang mungkin lebih seperti ibu saya dibanding seperti dosen, beliau banyak sekali bercerita dengan saya begitu juga saya. Tidak hanya soal kuliah, bahkan diluar itu, soal pertemanan, pacar, lagi suka sama siapa, dan candaan lainnya.

Kali ini saya ditemani oleh seorang teman kuliah yang cantik, namanya Putri Mumpuni. saya berterima kasih banyak dengan dia mau menemani saya ke rumah Bu Dea yang akan pindah ke kisaran tanggal 27 Juni 2012. Sampai-sampai puput harus mengundurkan waktu mengerjakan tugas kuliahnya. Jam 10 pagi saya berangkat dari Stasiun Duren Kalibata yang letaknya persis di sebelah tempat tinggal saya hanya dipisahkan oleh gang kecil (tempat bengkel motor pak Yadi). sudah lama saya tidak bertemu keluarga Bu Dea, terakhir sewaktu papasan di Jl KH Syahdan. Saya ngga perlu tahu mau ngobrol apa untuk ketemu dia, dia punya lebih dari 1001 cerita yang membuat saya terpingkal walaupun cerita itu cerita sedih (hahaha).


  
  

 Perjalanan hampir 1 jam setelah sampai stasiun saya sempat santai sejenak di Taman Topi jalan-jalan dan istirahat di Mushola menikmati kopi Liong (kopi wajib saya kalau di Bogor) ngobrol bersama 2 orang marbot (bapak dan anak saya lupa namanya berasal dari Depok) sambil menunggu puput, yang kebetulan Blackberry Massengernya sedang "nyangkut entah kemana" hahaha. saya sempat 3 kali tertidur (di Stasiun, di taman topi, dan di depan pelataran Matahari).

  

 Sampai akhirnya ketemu Puput dengan baju Cupemen (Superman) nya lalu langsung berangkat naik angkot 03 disambung 05A menuju Ciomas. ternyata kita ngga tahu ciomas itu disebelah mana, sebuah daerah unik nama jalannya sudah di kelompokkan, ada nama ikan, burung, tanaman, haha. Sampai di Rumah Bu Dea jam 1 duduk-duduk sebentar sebagai pemanasan sambil melihat coaster handmade bBu Dea bergambar karakter tintin, ayam dan sapi. Lalu sewaktu ketemu Bu Dea, langsung keluar lah cerita-cerita itu, tak sadar sudah jam 4 sore salah seorang dosen juga datang, ya Pak Krish. Beliau sempat mengajar saya sekali di kelas Tipografi 2, dia hanya ingat dengan jaket hijau saya (ya jaket nasional saya, haha).

Sekitar jam 6 kurang datanglah 2 biang kerok Bogor yang sebenarnya (Bu Dea memanggilnya anak singkong) bersama bapaknya. Deta, Jona, dan Om Ari (anak dan suami Bu Dea) yang baru saja pulang nonton bioskop. Deta dan Jona yang centil dan manis ini mondar-mandir dengan omongan-omongan dan bahasa yang bisa di lihat di buku EYD, haha. sebelum pulang kita sempat sholat maghrib berjamaah (perpisahan ini ditutup secara islami) setelah itu saya di haruskan bermain harmonika sebelum berfoto perpisahan. 

Lalu saya kembali pulang ke arah Stasiun dengan angkot bersama Puput, banyak obrolan yang kita lewati juga di angkot, seputar kampus, tentang Puput yang punya kembaran yang kata dia lebih gendut, dan bisnis mandiri Puput akhir-akhir ini, saya hampir ngga percaya obrolan sebanyak itu di perjalanan pertama kami, haha rasanya senang bisa ada teman dalam perjalanan ini. saya tiba di Stasiun pukul 7.45 malam, kereta jam 8 yang kupikir kereta terakhir, ternyata ada kereta jam 9 (jadi, maaf buat puput ngga bisa nemenin sampai rumah sebagai terima kasih terakhir untuk hari itu).

  

Perjalanan di kereta sangat menyenangkan kalau seandainya standarisasi angkutan umum terpenuhi, kuota penumpang dan maintenance yang baik. bisa dilihat 100 muka tertidur dalam dokumentasi visual saya. terima kasih dan selamat jalan buat Bu Dea, kenangan untuk kangenan selalu. salam untuk Deta, Jona, Om Ari, dan Emak ku Dea tersayang.

Terima kasih untuk Keluarga Om Ari dan Bu Dea, Puput, dan Pak Krish yang sudah membuat hari itu menyenangkan.

Berharap masih bisa bertemu beberapa waktu kemudian. 
Farewell So Long, I hope that we can meet again sooner or later. 

 -Nugraha Pratama
@agapratama

Sunday, June 3, 2012

sketsa di airport

2 buah sketsa saat berada di cengkareng_ dlm sebuah perjalanan. 0301612

*di publikasikan juga di:  http://arieharjanoviar.blogspot.com/ 

Tuesday, May 29, 2012

Rumah Batu



Tukang ojek dan tetangga sekitar kerap menjulukinya "Rumah Batu". Ketika melewati rumah itu bertahun-tahun yang lalu, saya dan teman-teman saya yang pada saat itu bahkan belum genap berusia tujuh belas tahun tertegun dan terkagum-kagum dengan penampilannya yang mirip menara batu, tidak seperti rumah pada umumnya. Seringkali kami bertanya-tanya, kira-kira siapa yang tinggal di rumah itu? Saya tidak pernah menyangka bahwa pada suatu hari saya akan berjumpa dengan pemilik Rumah Batu dan mengunjungi rumah itu bertahun-tahun setelah saya lulus kuliah.

Rumah ini dibangun pada tahun 1996 oleh arsitek/pemiliknya, Prof. Gunawan Tjahjono. Kunjungi tautan ini archnet.org/library/sites/one-site.jsp?site_id=9876 untuk info lebih lanjut mengenai Rumah Batu.



Sunday, May 27, 2012

sketsa Anand Krishna di talkshow Neospiritual Hypnotherapy.


Sabtu kemarin grup Indonesia's Sketchers bandung kembali beraksi.
Kali ini mereka menyambangi acara talkshow dari seorang penulis terkenal, sekaligus aktivis spiritual, Anand Krishna yg sedang melaunching buku terbarunya di gedung gramedia jl.merdeka no.43 bandung.
 

Acaranya berlangsung seru dan ramai, sampai-sampai ada peserta yg berdiri dan duduk di lantai karena ruangan terlalu penuh. Diskusi ini adalah mengenai 'Hypnotheraphy' yang diulas secara menyeluruh dari sudut pandang 'timur', atau dari sudut pandang Spiritualitas; yang ternyata jauh lebih maju dari sudut pandang 'barat'.
Terlihat diatas diskusi berlangsung dengan penuh antusiasme dari para audience yang nampak fokus sepanjang acara. Pada bagian ini saya bertanya-tanya, apa yang sedang di lakukan para 'sketchers' kita ya? hehe 

Dan bagian serunya adalah ketika para punggawa IS berhasil memberi 'kejutan'  kepada para pembicara di akhir acara. Terlihat dari wajah-wajahnya yang tersenyum cerah ceria mengatakan bahwa aksi 'live sketching' hari itu sukses!
Terimakasih atas kesempatan dan Apresiasinya, Pak Anand Krishna!
 Dan selamat pula kepada teman-teman IS. Congrats!  
Sampai bertemu di aksi -aksi selanjutnya
foto: dok. Gde Trilokasianta Baloma : http://on.fb.me/N2PG2I

*di poskan juga di:  http://arieharjanoviar.blogspot.com/ 
http://indonesiasketchers-bandung.blogspot.com/

*untuk liputan acara, baca selengkapnya di :
http://on.fb.me/LVz7ZM
http://blog.anandashram.or.id/